MINGGU PALMARUM

Published by admin on

MINGGU PALMARUM

    Untuk memahami makna dari Minggu Palmarum, mengapa harus bawa DAUN PALEM. Secara singkat kita melihat latar belakang perikop dari ini , dimana Israel di abad ke-2 sebelum Masehi, saat itu mereka dijajah Romawi dengan seorang gubernur yang berkedudukan di Syria, bernama Antiochus Epiphanes. Raja ini melakukan beberapa hal yang membuat orang Israel murka, antara lain mereka masuk ke Bait Allah, mengorbankan babi di mezbah Bait Suci disana, dan menyuruh orang Israel makan babi, serta melarang orang Israel untuk beribadah. (Babi adalah kenajisan bagi bangsa Israel)

    MATATIAS salah satu Imam, tidak bisa menerima hinaan ini, bersama pengikutnya melakukan pemberontakan. Namun sampai meninggal, pemberontakan tidak berhasil.

    Yehuda yang kemudian disebut Yudas ( yunani ), salah satu anak dari Imam Matatias melanjutkan pemberontakan . Yudas yang sangat mengandalkan Tuhan ini ditolong Tuhan untuk bisa menang dan merebut bait suci kembali. Kemudian Yudas diberi gelar MAKABE , singkatan dari MI KAMOKHA BA ELIM ADONAI, yang artinya Siapakah yang seperti Engkau Tuhan.

    Setelah Bait suci yang sudah tercemar tersebut berhasil direbut kembali, maka diadakan upacara untuk mentahbiskan, mensucikan kembali Bait Suci, menghancurkan mezbah asing dan membangunnya kembali mezbah suci yang baru. Membersihkan semua tempat yg sudah tercemar untuk disucikan kembali, untuk mereka bisa beribadah kembali di Bait Suci. Pada masa pensucian kembali Bait Suci tersebut, Menorah harus menyala, Namun ternyata minyak yg masih suci untuk menyalakan Menorah, tinggal cukup untuk semalam. Sementara minyak tambahan perlu waktu 8 hari untuk mensucikan.

    Mujizat Tuhan terjadi, ternyata minyak yg mestinya hanya cukup satu malam itu, ternyata mampu menyalakan menorah sampai 8 hari sampai minyak suci baru tersedia. Untuk memperingati mujizat ini, mereka membuat Dian berkaki 9, 1 ditengah disebut samas, penolong , dan 4 masing masing dikanan kiri samas. Dian ini disebut HANUKIAH .

    Menorah kembali terus menyala dan Bait Suci kembali terang benderang. Peristiwa ini setiap tahun terus diperingati sebagai Hari Raya Terang atau HANUKAH, yang jatuh pada bulan kislev atau desember pada kalender georgian. Saat perayaan ini, dian Hanukiah dinyalakan.

    Saat itu KEMENANGAN tersebut dirayakan dengan gegap gempita oleh bangsa Yahudi Sambil terus bernyanyi memuji Tuhan, masing masing membawa daun daunan berwarna hijau, yang adalah simbul dari adanya kehidupan. Yang terbanyak adalah DAUN PALEM yang adalah tanaman yang tahan hidup selama 4 musim tanpa mengalami gugur.

Hampir 200 tahun kemudian…

    Yesus yang diangap Seorang Nabi (menurut pemahaman bangsa Yahudi saat itu) masuk ke Yerusalem, kota yang saat itu masih dijajah Kerajaan Romawi, dengan dielu elukan oleh segenap penduduk dengan melambai lambaikan daun palem , ( Yoh 12.12-16)

Sekarang, kita mungkin bisa mengerti sedikit apa arti di balik penyambutan seperti ini.

    Dua ratus tahun sebelumnya, setelah kemenangan Yudas Makabe atas Epiphanes, mereka masuk ke Yerusalem, dan setelah Bait Allah direstorasi, ‘mereka membawa dahan cemara dan ranting-ranting hijau serta DAUN PALEM yang adalah “simbol Kemenangan”

    Sekarang, mereka melakukannya ketika Yesus masuk ke Yerusalem, walau belum ada tanda-tanda sedikitpun bahwa Kerajaan Romawi akan dikalahkan.

    Namun dengan penuh semangat mereka mengelu elukan Yesus dengan melambai lambaikan Daun Palem, Lambang Kemenangan, karena mereka sangat mengharapkan Yesus akan melakukan hal yang sama seperti Yudas Makabe, yakni MENANG dengan mengalahkan ‘kaum asing’ yang menjajah mereka (Kerajaan Romawi) dengan kemenangan militer, sebagaimana yang Yudas Makabe telah lakukan terhadap Epiphanes, sambil terus berseru HOSIANA yang berarti selamatkanlah kami ya Tuhan.

    Yang terjadi kemudian adalah jauh dari harapan mereka , yang dilakukan Yesus jangankan mengangkat senjata melawan penjajah , bahkan mengobrak abrik pedagang yg di Bait Allah, dan menyatakan bahwa Bait suci akan dirobohkan dan dibangun dalam waktu tiga hari. Sehingga mereka marah, dan mereka yang mengelu elukan inilah berbalik turut meminta kpd Pilatus untuk Yesus disiksa dan disalibkan. Mereka merasa sia sia mengelu elukan Yesus dengan daun palem sebagai simbol kemenangan.

    Kalau sampai saat ini Umat Kristen merayakan Minggu Palmarum dengan simbul daun pakem, sia siakah itu ?

    Tidak demikian bagi Umat Kristen mula mula, yang tetap meyakini dan memakai daun palem sebagai “Simbol Kemenangan” karena seminggu kemudian setelah dielu elukan dengan daun palem, Tuhan Yesus bangkit dari kematian, dengan mengalahkan maut dan segala kuasanya. Itulah “Kemenangan” yang hakiki bagi umat Kristen, yang terus diperingati dan dirayakan sampai saat ini.

    Jadi MINGGU PALMARUM dengan simbul DAUN PALEM adalah “KEMENANGAN” milik orang yang percaya Tuhan Yesus / Kristen, milik kita bukan karena ikut ikutan Umat Katolik saja.

Bintaro, 2 April 2020

     Bapak Sriyono


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *